Uncategorized

Kembali ke titik itu

Pada awal april 2019 sampe dengan tanggal 15 April, aku bingung apa yang terjadi dengan diriku. Kata bapakku dan suamiku aku disuruh ke psikiater atau diruqyah, saat itu dalam hatiku kayak enggak punya Tuhan. Bukan begitu kata bapakku, kamu tuh stress dan suamiku juga bilang kamu harus diruqyah ada yang salah pada dirimu. Buatku serahkan semua aja ke Allah, Allah tau yang terbaik buat hambanya. Memang saat itu aku lagi enggak pengen apa2 selain shalat, ngaji dan bersih2 rumah. Suamiku sampe bingung kamu enggak ada capenya nyuci baju dan bersih2 rumah, dalam hatiku please kalian jangan cerewet kepala aku lagi ruwet..😁.. Aku sangat suka menyuci baju dengan menggunakan tangan. Itu cara aku untuk melampiaskan kekecewaan dan kesedihan dalam hidup, seakan aku enggak butuh siapapun aku hanya butuh untuk memulihkan energiku seperti sedia kala itu aja.

Setelah rasa sedih dan kekecewaan itu hilang, aku ingin ketempat yang bikin aku bahagia. Aku ketempat itu seolah aku bisa merasakan apa yang aku rasakan dulu, perasaan bahagia dan perasaan mempunyai sahabat dan aku agak lupa apakah benar dia yang menemaniku waktu kecil. Aku hanya ingat ada seorang sahabat atau teman yang waktu kecil menemaniku main sepeda, minjemin beberapa kaset, main kartu dan main catur dan kita pernah punya usaha bikin penyewaan majalah dengan kotak uang yang diberinama kita berdua, satu lagi manjat tembok untuk sampe ke atap genteng. Dia selalu lihat wajahku, kalo wajahku lagi cemberut kamu langsung pergi tanpa ingin berlama2 denganku. Ternyata moment2 itu terekam indah di fikiranku, terimakasih udah jadi sahabatku dimasa kecil.

Akhirnya aku cari nomer HPmu, Aku penasaran kamu atau kakakmu yang selalu menemaniku waktu kecil. Ternyata memang kamu, Bahagia bisa berbincang2 yang enggak penting terakhir kita berbincang udah lama sekali, katamu kamu lupa dengan masa kecil kita, aku terdiam terserah kamu kalo memang lupa ya udah. Terimakasih telah memberikan kenangan yang begitu indah, sekarang semua telah berbeda kamu dengan jalanmu dan aku dengan jalanku. Satu kesamaan kita, sama-sama terdampar dikeuangan, gaya bahasamu dalam membalas chatku masih sama seperti waktu kecil selalu cuek dan apa adanya.

Di depan teras rumah
Fana merah jambu, ku berdua
Momen-momen tak palsu
Air tuhan turun, aromamuTersalurkan aliran syaraf buntu
Martin tua media pembukaBerdansa sore hariku
Sejiwa alam dan duniamu
Melebur sifat kakukuHal bodoh jadi lucu
Obrolan tak perlu kala ituTersalurkan aliran syaraf buntu
Martin tua media pembuka (Fana Merah jambu – Fourtwnty)

Advertisements