Uncategorized

Cinta itu sederhana

Memang cinta itu sederhana, kita balas mencintai orang yang mencintai kita semua selesai tapi hidup tidak sesederhana itu.

Sepenggal lagu langit sore

Lelah dengan harapan

Kau tak mungkin ku dapatkan

Tentang perasaan tak bisa dipaksakan

Aku ingin kamu, tapi kamu tak mau

Jangan Jangan paksa aku untuk membencimu

Memahami hatimu

Tak cukup usiaku

Sementara rindu ini

Semakin menusuk dadaku

Ternyata perasaanmu padaku

biasa biasa saja …

Cinta itu sederhana

Yang rumit itu kamu

Mencintaimu itu mudah

Yang sulit adalah membuatmu juga mencintaiku

Aku mengerti bahwa bahagiamu bukan denganku

Niscaya semua luka kan sembuh bersama waktu

Maafkan aku yang pernah di hidupmu

Kini ku pergi dan takkan lagi mengganggu

Aku telah belajar ikhlas untuk melepas

Kau abadi sebagai luka yang membekas

Terima kasih untuk cinta yang pernah hadir

Walau bukan seperti ini kubayangkan kan berakhir ..

Cinta itu sederhana

Yang rumit itu kamu

Mencintaimu itu mudah

Yang sulit adalah membuatmu juga mencintaiku

Cinta itu sederhana

Yang rumit itu kamu

Mencintaimu itu mudah

Yang sulit adalah membuatmu juga mencintaiku

(lelah dengan harapan tak mungkin ku dapatkan)

Tentang perasaan tak bisa dipaksakan

Aku ingin kamu tapi kamu tak mau

Aku telah belajar ikhlas melepas)

Cinta itu sederhana

Yang rumit itu kamu

Mencintaimu itu mudah

Yang sulit adalah membuatmu juga mencintaiku

Perasaan kata2 itu aku pernah dengar berpuluh2 tahun lalu. Lagu itu mengingatkan aku pada sahabatku,saat kecil kita sering main catur bareng dan saat abg kita lebih sering makan, nonton, lari pagi dan banyak hal lagi. Aku inget kamu orang yang aku cari saat aku butuh teman bicara dan setelah aku menikah kamu menghilang seperti di telan bumi tapi semesta tidak ingin kita tidak menyelesaikan masalah kita akhirnya ketemu dengan tidak sengaja di bis dan akhirnya kita naik kereta api sama2.

Obrolan kita jadi garing dan tidak ada canda tawa seperti dulu, terlihat kamu tersiksa berbicara lama2 denganku aku juga sama merasa bersalah yang tidak pernah bisa memilihmu menjadi pacar apalagi suami. Tapi kamu perlu tau tidak mudah menghilangkan perasaan sayang seorang sahabat, kamu berkata pada sahabatku. Kata kamu dari kecil kamu telah jatuh cinta sama aku. Aku tau, saat berangkat sekolah ada cowok memandangiku dari kejauhan dan begitu bahagia ketika aku lewat dihadapanmu. Jujur aku berdoa tidak ada masa dimana kamu menyatakan cinta agar persahabatan kita abadi, aku butuh kamu sebagai sahabat. Bahagia lihat kamu begitu lincah, jago matematika, suka basket dan suka musik.

Walaupun sampe sekarang kamu selalu beranggapan aku wanita jahat dan tidak punya perasaan, kalo aku bisa memilih pasti aku pilih kamu jadi pacar atau suamiku pada saat itu. Tapi perasaan jatuh cinta sama kamu tidak kunjung tiba, belasan tahun aku menunggu dan akhirnya menyerah .Saat itu kita punya perasaan yang sama, kamu perasaan jatuh cinta dan aku perasaan mencoba mencintai. Tapi setiap kali aku mencoba selalu gagal, Friend Zone itu yang bikin aku nyaman. Setiap kali melewati area gelangan olahraga wajahmu dan senyummu yang selalu aku inget, enggak semudah itu menghapus persahabatan kita walaupun ujungnya luka. Aku fikir setelah 12 tahun tidak bertemu, perasaanmu akan tetap sama sebagai sahabat ternyata kamu bilang tidak semudah itu menghapus perasaan cinta itu pesanmu ke temanku. Sudahlah memang persahabatan kita udah tidak ada jalan pulang dan hanya jadi cerita kita di masa ABG. Terimakasih, selalu mencoba membuat aku tertawa saat aku mencari jati diri. Sekarang kita seperti dua orang asing yang tidak punya cerita, buatmu luka itu enggak akan pernah sembuh dan buatku hidup enggak perlu dibuat rumit kalo memang semesta mentakdirkan kita sebagai sahabat ya sudah tidak ada yang perlu disesali dan di buat rumit. “Aku korbannya dan bukan kamu, semudah itu kamu bilang itu”itu pasti yang ada didalam hati kamu.

Uncategorized

Amnesia

Pada Hari Senin tanggal 13 Mei Tahun 2019, saya menengok Bapak kos saya waktu itu baru aja habis operasi. Tahun 2011 saya ngekos, waktu itu suami saya kerjanya masih di Tendean. Kosannya memang tidak terlalu besar tapi nyaman dan hommy banget karena Ibu kos dan keluarganya begitu baik banget mereka menganggap udah kayak kelaurga sendiri, pernah beberapa kali saya ikut makan malam bersama keluarga ibu kos. Ketika pamit untuk tidak ngekos sampe saya menanggis, pasti saya akan kangen dengan kebaikan mereka.

Keluar dari kantor saya melihat ojek langganan mereka tersenyum dari kejauhan , “Mba mau dianter ke Cawang?” “bukan aku mau ke pejaten” langsung berubah wajahnya “kalo gitu jangan ama saya” “”lu berapakali bikin gw sakit hati” trs untuk ojek itu bilang apa langsung aku jawab “bodo”.

Akhirnya ada tukang ojek yang mau mengantar saya ke Pejaten, disepanjang jalan seperti biasa kami bercerita aku naik ojek pangkalan itu udah hampir 13 tahun saat lembur untuk menyusun Laporan Keuangan, karena 13 tahun lalu gojek belum trend seperti saat ini. sebelum ke Tempat Ibu Kos saya mampir dulu ke Toko Buah, berharap dapat diskon akhirnya saya berlagak seperti orang jawa. Penjual buahnya percaya bahwa saya memang orang Jawa (Ortukukan Jawa,memang saya orang jawa) sampe akhirnya pertanyaan yang bikin saya terdiam. “Mba Lahir dimana?” saya agak terbata-bata menjawabnya “ortu saya orang jawa dan saya lahirnya di Bogor” dengan senyum-senyum tukang buah bilang “wajahmu cantik, kamu lebih cocok jadi gadis sunda” dalam hati saya, gagal deh gw dapat diskon. “Mas terus bonus buat saya apa? saya udah belanja banyak loh” “saya kasih satu jambu” dengan wajah BT saya langsung berlalu “Makasih ya Mas”

Akhirnya saya sampe juga dikawasan pejaten karena lewat buncit dan saya lupa beloknya kemana, “Mba beloknya kemana?” “Tunggu, saya lupa” akhirnya belok2 terus saya bilang “Mas Maaf ya, saya masih lupa belokannya” “tapi kalo dari jalan raya saya ingat” akhirnya saya mencari jalan besar, ternyat saya ingat. “Mas, ini rumahnya. sekarang mas pulang aja” “tukang ojek itu melihat wajah saya. “Mba, beneran? takut salah terus ntar Mbak pulangnya gimana?” “enggak usah difikirin, saya yakin ini rumahnya” dengan sedikiti pembelaan saya bilang tadi lupa jalan karena udah delapan tahun enggak kesini. “oh gitu, yaudah saya tinggal ya Mba”

Tampak dari depan Kosan itu masih sama seperti dulu ya tidak ada yang berubah, masuk keruang tamu masih sama seperti dulu. “Dinda itu kolam renang, aku pengen nyebur” Dalam hatiku enak banget ada meja didekat kolam renang, menulis sambil mendengarkan gemericik air. (kalo airnya ada yang mainin, impianku di dalam rumah ada sudut untuk aku menulis). Dinda Masih cantik seperti dulu, dua anaknya udah beranjak ABG. Seperti Biasa aku, dinda dan ibu kos ngerumpi sambil senyum2 dan wajah mereka sesekali menggodaku dan mengingatkan bagaimana stressnya aku ketika belum punya anak. Mereka bercerita betapa bahagianya waktu aku memberikan mereka Batik, karena saat itu aku punya butik dan sekarang tinggal cerita… karena berantem dengan penjahit dan pemasok. banyak yang menyayangkan kenapa bisnisnya tidak dilanjutkan. Bersyukur ketemu orang baik seperti kalian (Kalo kata Fiersa Besari adalah Konspirasi Alam Semesta)

Uncategorized

Kembali ke titik itu

Pada awal april 2019 sampe dengan tanggal 15 April, aku bingung apa yang terjadi dengan diriku. Kata bapakku dan suamiku aku disuruh ke psikiater atau diruqyah, saat itu dalam hatiku kayak enggak punya Tuhan. Bukan begitu kata bapakku, kamu tuh stress dan suamiku juga bilang kamu harus diruqyah ada yang salah pada dirimu. Buatku serahkan semua aja ke Allah, Allah tau yang terbaik buat hambanya. Memang saat itu aku lagi enggak pengen apa2 selain shalat, ngaji dan bersih2 rumah. Suamiku sampe bingung kamu enggak ada capenya nyuci baju dan bersih2 rumah, dalam hatiku please kalian jangan cerewet kepala aku lagi ruwet..😁.. Aku sangat suka menyuci baju dengan menggunakan tangan. Itu cara aku untuk melampiaskan kekecewaan dan kesedihan dalam hidup, seakan aku enggak butuh siapapun aku hanya butuh untuk memulihkan energiku seperti sedia kala itu aja.

Setelah rasa sedih dan kekecewaan itu hilang, aku ingin ketempat yang bikin aku bahagia. Aku ketempat itu seolah aku bisa merasakan apa yang aku rasakan dulu, perasaan bahagia dan perasaan mempunyai sahabat dan aku agak lupa apakah benar dia yang menemaniku waktu kecil. Aku hanya ingat ada seorang sahabat atau teman yang waktu kecil menemaniku main sepeda, minjemin beberapa kaset, main kartu dan main catur dan kita pernah punya usaha bikin penyewaan majalah dengan kotak uang yang diberinama kita berdua, satu lagi manjat tembok untuk sampe ke atap genteng. Dia selalu lihat wajahku, kalo wajahku lagi cemberut kamu langsung pergi tanpa ingin berlama2 denganku. Ternyata moment2 itu terekam indah di fikiranku, terimakasih udah jadi sahabatku dimasa kecil.

Akhirnya aku cari nomer HPmu, Aku penasaran kamu atau kakakmu yang selalu menemaniku waktu kecil. Ternyata memang kamu, Bahagia bisa berbincang2 yang enggak penting terakhir kita berbincang udah lama sekali, katamu kamu lupa dengan masa kecil kita, aku terdiam terserah kamu kalo memang lupa ya udah. Terimakasih telah memberikan kenangan yang begitu indah, sekarang semua telah berbeda kamu dengan jalanmu dan aku dengan jalanku. Satu kesamaan kita, sama-sama terdampar dikeuangan, gaya bahasamu dalam membalas chatku masih sama seperti waktu kecil selalu cuek dan apa adanya.

Di depan teras rumah
Fana merah jambu, ku berdua
Momen-momen tak palsu
Air tuhan turun, aromamuTersalurkan aliran syaraf buntu
Martin tua media pembukaBerdansa sore hariku
Sejiwa alam dan duniamu
Melebur sifat kakukuHal bodoh jadi lucu
Obrolan tak perlu kala ituTersalurkan aliran syaraf buntu
Martin tua media pembuka (Fana Merah jambu – Fourtwnty)